Rabu, 28 Desember 2011

PAI: PELAJARAN YANG MENJENUHKAN"

Ada beberapa penelitian tentang problematika PAI di sekolah selama ini, salah satu hasilnya adalah masih lemahnya kualitas pendidik atau guru agama Islam disekolah. Guru-guru PAI belum mamapu menghadirkan mata pelajaran agama Islam disekolah sebagai mata pelajaran yang menarik. Inilah yang kemudian menjadikan siswa disekolah cenderung tidak senang dengan mata pelajaran PAI. Mereka lebih senang dengan mata pelajaran lain. PAI di sekolah menjadi matapelajaran yang menjenuhkan. "seharusnya GPAI bisa meyakinkan siswa bahwa PAI itu bukan hanya wajib untuk dipelajari akan tetapi menjadi kebutuhannya sebagai umat Islam dan juga bisa menyajikannya dengan menarik" papar Dr. Amin Haedari,M.Pd, Direktur Pendidikan Agama Islam Ditjen Pendis Kemenag, dalam acara Workshop Pengembangan Kompetensi Guru PAI. 
Dengan masih lemahnya kualitas guru agama Islam yang kemudian membuat siswa jenuh bahkan cenderung "acuh" dengan mata pelajaran PAI disekolah, maka diperlukan upaya pendidikan dan pelatihan kepada para guru PAI agar mampu menyajikan PAI di sekolah dengan menarik. Selain itu guru PAI juga paham bahwa tugas mereka adalah tugas yang sangat mulia sehingga mau bekerja keras untuk mencerdaskan pikiran, hati dan jiwa generasi bangsa yang outputnya menghasilkan manusia-manusia yang mau menjalankan nilai-nilai agama Islam dan berakhlak mulia sesuai dengan fungsi utama pendidikan agama di sekolah yakni memberikan landasan yang mampu menggugah kesadaran dan mendorong peserta didik melakukan perbuatan yang mendukung pembentukan pribadi beragama yang kuat
Guru agama harus mampu berkomunikasi kepada guru mata pelajaran lain agar dapat bersama-sama menanamkan nilai-nilai agama Islam kepada siswa. Kedua, kepala sekolah, guru agama harus bisa meyakinkan kepala sekolah akan pentingnya PAI dalam pembentukan karakter anak. Ketiga, masalah siswa. Guru agama Islam harus mampu meyakinkan kepada siswa bahwa PAI adalah mata pelajaran yang penting dan juga mampu penyampaian PAI dengan cara yang menarik dalam proses belajar mengajaranya. Dan keempat masalah orang tua murid. Guru harus mampu berkomunikasi dan juga menjalin kerjasama dengan orang tua murid dalam menanamkan nilai-nilai agama Islam. Empat persoalan inilah yang dihadapi oleh guru agama Islam saat ini. Maka dari itu, kata Amin lagi, guru PAI harus bisa menjawab persoalan itu, "jika saya ibaratkan, guru agama Islam itu harus seperti air yang mengalir. Walaupun jalan yang berliku, batu-batu besar yang menghadang air tetap mengalir dengan mencari celah. Guru agama Islam diharapkan mampu mencari celah agar terus dapat mengalir sampai pada tepian yakni kemajuan bangsa ini" tukasnya Dalam menyelesaikan persoalan tersubut dibutuhkan kratifitas seorang guru. Tanpa itu, menurut Amin, guru PAI tidak akan mampu menjawab persoalan yang dihadapinya. Kreatifitas GPAI menjadi sebuah keniscayaan "guru PAI yang kreatif ketika mendapatkan hambatan akan mencari solusi sebaik mungkin, seperti air yang mencari celah" imbuhnya Guru yang kreatif adalah mereka yang selalu berpikir dan membuat yang berbeda dari hari-kehari. Ia selalu berproses (becoming atau menjadi) untuk sampai pada kesempurnaan. "Maka guru yang kreatif adalah anti kemapanan" katanya Sejalan dengan Amin, Dr. Nifasri Muh Nir, M.pd selaku Kasubdit PAI pada SMP Direktorat PAI Kemenag mengatakan bahwa PAI disekolah saat ini terkesan "kontradiksi" antara harapan dan kenyataan. PAI diharapkan menjadi benteng bagi anak di sekolah. Ia ada dan (diangap) sangat penting posisinya dalam upaya pembentukan generasi yang shaleh namun kenyataannya masih kurang perhatian kepadanya. "dari sisi anggara misalnya, PAI disekolah sampai saat ini masih sangat kecil dengan garapan yang begitu banyak". Terang Nifasri Selain itu, persoalan masih belum adanya struktur PAI di Kemenag daerah juga menjadi masalah yang sampai saat ini belum terselesaikan sehingga para guru PAI di bawah masih terkatung-katung karena tidak memiliki "rumah" yang sesungguhnya persoalan ini juga erat kaitannya dengan anggaran.
Kontradiksi PAI ini tidak dilihat secara objektif oleh masyarakat sehingga ketika terjadi persoalan seperti meningkatnya tindak kekerasan yang melibatkan pelajar, menurunnya rasa tanggungjawab anak-anak dan remaja, membuadayanya nilai materialism dikalangan pelajar semuanya (akibat) kegagalan pendidikaan agama Islam disekolah. Padahal jika dilihat dengan objektif PAI saat ini masih sangat lemah dalam anggaran sehingga tidak bisa menutup semua celah. Namun demikian, dengan masih lemahnya anggaran dan banyaknya kritik yang dialamatkan kepada PAI tidak kemudian membuat kita layu, "semangat untuk terus berjuang harus tetap terpatri dalam jiwa, menjadi guru adalah pewaris para Nabi" jelas Nifasri Dengan masih minimnnya anggaran akan tetapi sudah banyak yang telah dilakukan oleh Direktorat Pendidikan Agama Islam, seperti memberikan bantuan dan beasiswa kepada GPAI untuk menyelesaikan S1 dan S2, disamping itu juga memberikan pelatihan kepada GPAI dan sebagainya. Ini terbukti dengan lahirnya guru-guru PAI yang kreatif yang saat ini menjadi peserta Workshop ini. "Semoga nanti para guru PAI kreatif ini dapat menularkan virus kreatifnya kepada GPAI yang lain, dengan begitu PAI disekolah menjadi mata pelajaran yang disenangi oleh siswa yang kemudian merangsang siswa untuk mau mempelajari dan tentu menjalankan nilai-nilai agama Islam tersebut dalam kehidupannya sehari-hari" harap Nifasri kepada peserta workshop yang daiadakan di Bandung tanggal 7-9 November 2011 tersebut. Sumber: Ditjen Pendis Kemenag RI

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar